Boyolali, 12 November 2024. Bertempat di Aula kantor balai taman Nasional gunung Merbabu, jln. Merbabu No. 136, Kabupaten Boyolali - Jawa tengah, diselenggarakan sebuah acara Focus Group Discution (FGD) bertajuk “Lanskap Kawasan Merapi Merbabu Menoreh Sebagai Pilar Konservasi, Penjaga Kelestarian Ekosistem Hutan Jawa” diselenggarakan oleh Kementrian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Derektorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem Balai Taman Nasional Gunung Merbabu.
Dibuka oleh Direktur Bina Pengelolaan dan Pemulihan Ekosistem Ditjen KSDAE, Suharyono, S.H., M.H., dan hadir dalam acara ini para ahli kehutanan, akademisi, serta pegiat lingkungan dari berbagai lembaga dan salah satunya adalah perwakilan dari Yayasan Tirta Alam Bumi Bertuah dari Provinsi Riau yang mempunyai cabang di Cacaban Lor - Kabupaten Purworejo.. Mereka datang untuk bertukar pikiran dan merancang strategi pengelolaan hutan yang lebih holistik. Dalam sambutannya, Suharyono mengungkapkan rasa bangganya terhadap langkah-langkah konservasi yang kini semakin “humanis dan terarah” dengan harapan yang tersirat pesan dalam dalam kegiatan ini bahwa Bukan saja pepohonan yang hidup di hutan Jawa, tapi juga masa depan kita semua.
Lanskap Merapi-Merbabu-Menoreh memang memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem Jawa. Sebagai kawasan pegunungan yang saling terhubung, lanskap ini membentuk koridor ekologis yang menopang keanekaragaman hayati, melindungi spesies endemik yang rentan, serta berfungsi sebagai penyerap karbon dan penyangga iklim. Bukan hanya habitat flora dan fauna, tetapi kawasan ini juga menjadi sumber air bagi beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS) utama, seperti DAS Opak-Oyo, Serang, Progo, dan Bengawan Solo, yang sangat penting bagi masyarakat.
Namun, ancaman seperti deforestasi, alih fungsi lahan, perburuan liar, hingga urbanisasi terus membayangi. Tekanan terhadap kawasan hutan ini kian tinggi, baik dari kebutuhan lahan untuk pertanian dan permukiman maupun ancaman ilegal seperti penebangan dan perdagangan satwa. Fenomena ini memengaruhi tidak hanya kelestarian ekosistem, tetapi juga ekonomi masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam hutan.
Hadir sebagai Narasumer diantaranya; Prof. Ibnu Maryanto dari BRIN, Haryadi Himawan dari BERSAHAJA, Arif Setiawan dari Swara Owa, dan Nela Resta Felayanti dari Yayasan SINTAS Indonesia, bersama moderator Fajar Suryo Utomo, memberikan pandangan serta solusi untuk menjaga dan mengelola lanskap hutan ini. Mereka sepakat bahwa pendekatan konservasi berkelanjutan harus melibatkan semua pihak, baik pemerintah, akademisi, komunitas, hingga masyarakat umum.
Melalui acara ini, harapan muncul untuk menjadikan kawasan Merapi-Merbabu-Menoreh sebagai model pelestarian hutan di Jawa, yang bukan hanya menjadi “paru-paru” pulau Jawa, tetapi juga sumber kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.
Yayasan Tirta Alam Bumi Bertuah, 12 November 2024